REUNION

Disclaimer : Guavitten’s n chara orang yang gw pake namanya tanpa seiijin gw yaitu Mizuhime Winterfield, Haruhi Kumayuki suaminya Mizuhime *btw kapan nikahnya??* Markius J. William, Jun Ryuuzawa, Yukisa Conrad. Rhetarox Neale , Calon kakak ipar gw Sheryl dan Teppei ascott yang dah punya anak umur 4 tahun XDD

Keterangan : Semua chara milik pm masing2 dan hanya sekedar numpang nama doank XDDD *pm disambitin bakiak*

****

1986.

January Aku terbangun di sebuah tempat yang luas. Tempat yang di tumbuhi dengan rerumputan, dan bunga-bunga indah. Aroma kedamaian dapat tercium. Padang bunga yang tak aku kenal, tanpa rumah, jalan kecil ataupun mahkluk hidup seperti diriku. Hanya ada kesendirian . Sepi begitu sepi. Hanya ada angin, udara yang kuhirup, rerumputan, bebatuan, dan bunga.

“Jee, dimana dia?” aku berputar mencari sosoknya di tempat ini namun, tak ada Kakakku begitu juga Mere dan Pere. Tak ada mereka disekitarku, hanya aku seorang diri. “Jee bodoh,” ucapku “Bukankah dia sudah berjanji akan selalu bersamaku!?” lanjutku kesal. Sesekali aku menghela nafas. Satu bulir air mata mengalir tiba-tiba dari sudut mataku. Setetes demi setetes, lalu mengalir dengan derasnya. Aku melihat gambaran hidup dihadapanku bagaikan sebuah film yang diputar dengan durasi 2.15.

****

Tahun 1985. Desember akhir.

Hening da tenang, tak ada satu pun yang berbicara, jika membuka mulut yang ada hanyalah perang dingin. Tapi tidak ada yang membuat gadis berumur 18 tahun ini senang. Diruangan ini ada Pere, Mere dan Jee. Walaupun Sherty tahu ada yang kurang, tak ada Noire disini. Suasana tenang diruang makan, aura kehangatan terasa mengalahkan perang dingin antara Jee dan Mere. Sherty menyukai suasana seperti ini bahkan suasana ini yang dirinya rindukan.

Brakk!!!!

Pandangan mereka berahlih kearah suara pintu yang terbuka. Sekelompok orang-orang bertopeng mengenakan jubah hitam masuk. Wajah Pere dan Mere terlihat begitu panik dan sepertinya ada raut wajah ketakutan dan rasa benci pada orang-orang berjubah hitam dan bertopeng. “ Reid, bawa Sherty pergi dari tempat ini” Ujar Pere tegas dan sedikit bergetar. Sherty baru kali ini melihat wajah kedua orang tua yang ia sayangi menunjukan wajah seperti itu. “ Sher..!!” Jee menarik tangan Sherty, pergi keluar dari ruangan dimana Pere dan Mere berhadapan dengan orang-orang asing. Melalui pintu lain yang melewati perapian dengan hanya menggeser tempat lilin. Perapian itu pun terbuka ke arah dalam, sebuah jalan pintas menuju bagian tangga yang mengarah ke lantai 2.

Terus memegang tangan Sherty tanpa bicara sedikitpun, Sherty dengan terpaksa mengikuti. Pandangan matanya yang tadi memperhatikan sosok kakaknya, kini berahlih kepada sosok orang seperti tertidur. Sherty menghentikan langkahnya. Melepaskan pegangan dari Jee. Kakinya melangkah menuju sosok orang yang tertidur. Matanya terbelalak kaget melihat sosok tubuh itu sudah tak bernyawa lagi. Terdiam, hingga tersadar ketika Jee menarik tangannya dengan paksa. “Jee, apa yang terjadi dengannya?” tanya Sherty penasaran “Kita harus menolongnya” ujar Sherty lagi yang terseok-seok mengikuti langkah Jee yang semakin cepat. Namun tak ada suara penjelasan yang keluar dari mulut kakaknya.

Entah sudah berapa lama Sherty mengikuti Jee. Meniti tangga demi anak tangga, hingga menuju menara utara. Sebuah kamar yang tak pernah terpakai tapi terlihat seperti terpakai. Foto seorang anak perempuan kecil dengan seorang anak laki-laki sebayanya. Foto yang begitu mirip dengan foto Jee waktu kecil. Jee melepaskan pegangannya dari Sherty. Wajahnya seperti nampak mencari sesuatu, entah apa itu Sherty tidak tahu, karena dirinya baru pertama kali ini menginjak kamar menara utara dan kelihatannya Jee sudah menemukan apa yang dicari. Sherty melihat Jee membuka sebuah lemari dan tiba-tiba saja menarik lengan Sherty. Setelah dengan sedikit menyingkirkan baju yang tergantung dan menekan pinggiran dinding dalam lemari, hingga terlihat sebuah ruangan, tempat untuk menyimpan sesuatu. “Aduh!! Sakit” Sherty mengelus bahunya yang terbentur dinding saat tubuhnya terhempas meringkuk didalam ruangan kecil itu.

“Bersembunyilah disini, jangan keluar sampai keadaanya aman” Sherty baru pertama kali ini mendengar Jee berkata seperti itu, bukan nada perkataan yang terdengar main-main tapi nada ucapan yang berbeda, serius itu yang Sherty tangkap dari perkataan Jee. Wajah Tampan Jee tampak begitu berbeda.

“Tapi bagaimana dengan Pere, dan Mere?” Sherty bertanya pada Jee “Lalu bagaimana dengan dirimu?” tanya Sherty lagi “Tempat ini bisa kita bagi dua, aku mohon Jee bersembunyilah bersamaku. Bukankah kau sayang padaku?” Ujar Sherty yang mulai hampir menangis dan terus membujuk kakaknya untuk bersembunyi bersamanya.

“Bodoh, tentu saja aku sayang padamu. Tapi aku lebih mengkhawatirkan dirimu, aku sudah janji pada Pere dan Mere untuk menjaga dan melindungimu” Jee berusaha tenang dihadapan Sherty, “Kau tahu tempat ini hanya cukup untuk satu orang” ujar Jee tersenyum getir dan baru kali ini Sherty melihat raut wajah Jee seperti itu. Tersenyum sangat manis namun terdapat sesuatu yang aneh dalam sorot matanya, seakan-akan ini adalah hari terakhir.

“Tapi—“ Wajah Sherty terlihat memelas dan berharap Jee ikut bersembunyi bersamanya.

“Tidak ada tapi-tapian, dan jangan keluar sampai keadaanya benar-benar aman” Jee menghela nafas “Jika terjadi apa-apa padaku tolong sampaikan padanya, Sherly. Ya Tuhan…Maaf, aku tidak bisa menempati janjiku” Jee mengelus pipi Sherty. Gadis berumur 19 tahun itu melihat kakaknya melepaskan kamera yang selalu tergantung dilehernya, dan memberikannya pada Sherty “Tolong jaga baik-baik benda ini, dan ingat pesanku, kau harus tetap hidup walau apapun hasilnya nanti, temukan kebahagianmu. Jangan pernah menyerah” setelah mengatakan itu Jee menutup penutup ruangan, membuat ruangan menjadi gelap, dan hampir tidak terdengar apapun. Suara terakhir yang kudengar hanyalah suara pintu tertutup dan kembali hening.

Gelap.

Ruangan ini begitu gelap. Mataku belum terbiasa. Itu tidak penting, yang menjadi masalah sekarang bagaimana dengan Jee? Pere dan Mere? Kenapa aku harus bersembunyi? Kenapa Jee tak ikut bersembunyi bersamaku? Sherty kecil yang manja sudah dewasa sekarang dan tahu bagaimana untuk membela diri? Kini mataku sudah terbiasa dengan kegelapan, dan yang pertama kali kulihat adalah kilauan cahaya lemah yang terpantul dari lensa kamera Jee. Cahaya lemah yang menerobos diantara celah-celah kecil.

Jee.

Baru kali ini Jee melepaskan kamera kesayangannya itu. Aku sebenarnya tidak mau hanya meringkuk disini, dilindungi menunggu sampai keadaanya aman. Aku sebenarnya ingin membantu, ingin melindungi Jee. Tetapi itu adalah perintah Jee, dia tahu yang terbaik untukku tetapi kenapa harus kamu menitipkan kamera yang selalu kau bawa bersamamu Jee. Dalam pikikaranku begitu banyak hal-hal berkecamuk. Jee, tolong jaga Pere dan Mere. Jee, jaga dirimu dan berjanjilah akan kembali. Membuka ruangan ini, dan kau tersenyum padaku mengatakan “Lihat aku baik-baik saja kan? Aku semakin meringkuk dalam ruangan kecil yang sempit. Ruangan yang hanya cukup untuk satu orang, kamera Jee ada dipangkuannku. Tidak akan terjatuh. Sementara kedua tanganku menutup telinga, berharap tidak akan mendengar suara apapun selain suara Jee, dan mataku pun tertutup rapat, berharap cahaya yang pertama kali kulihat adalah cahaya yang menyinari wajah Jee yang tersenyum. Mengulurkan tangannya dan mengeluarkan diriku dari tempat ini. Tubuhku gemetar, semakin merapat berharap sentuhan lembut yang mengguncang bahuku adalah dari tangan Jee.

Jee, Pere, Mere.Cepatlah kembali.

Entah berapa lama Sherty berada diruangan sempit itu. Meringkuk, bergetar menunggu seseorang yang dirinya harapkan muncul. Entah berapa lama lagi dirinya harus berada ditempat ini. Berlahan-lahan mataku terpejam. Berkali-kali aku berusaha menahan agar mataku tidak tertutup, namun berkali-kali itupula mataku kembali tertutup. Entah berapa lama lagi, dirinya sanggup bertahan. Semakin lama, udara disekitar ruangan tempat Sherty berada mulai menipis. Sherty yang bergetar semakin merapat, tangannya memeluk kamera yang diberikan oleh kakaknya. Udara kini pun hampir menghilang. Mata Sherty pun terpejam seiring aliran udara yang mulai menghilang.

****

1986

= Hospital =

Aku membuka mataku dengan berlahan-lahan. Bias cahaya menusuk mata. Silau. Rasanya sulit sekali untuk membuka mataku. Seluloid sosok ramai nampak mengelilingi diriku. “Jee??” ucapku “Pere, Mere?” lanjutku senang, namun sosok samar yang tertutup oleh sinar itu kini mulai terlihat. Mataku terbiasa oleh cahaya yang tadi nampak menyilaukan. Tapi ternyata ditempat ini tidak ada Jee, Mere dan Pere. Lalu dimana mereka? Aku hanya bisa bertanya didalam hati. Terduduk terdiam memandangi satu persatu orang-orang yang berada di tempat ini. Baru aku sadari, ternyata aku terbangun diruang berdinding putih. Infus yang melekat di tangan kiriku. Mereka. Orang-orang yang aku kenal mengitari diriku. Wajah-wajah mereka terlihat begitu lega namun seperti menyimpan sesuatu hal. Tapi apa itu? Apa yang mereka sembunyikan. Dan kenapa aku bisa berada ditempat ini? Siapa yang membawaku kesini? Bukankah tadi aku berada didalam lemari?

“Jee dimana dia?” tanyaku lemah. Tak satupun diantara mereka menjawab. Tak satupun mereka berani mentap mataku. Hey apa yang terjadi? Dimana Jee? Dimana? Kenapa mereka terdiam, tak bicara sepatah katapun. Sungguh apa yang sebenarnya terjadi? Banyak perntanyaan dikepalaku. Berkecambuk menjadi satu.

Hingga seseorang anak laki-laki memberikan kamera dengan strap merah kepadaku. Dia Jo William, Markius. Mantan adik kelasku. Kepalaku kembali menoleh kearah yang lain. Mereka semua ada disini, Jun yang terlihat bersama sosok seorang perempuan yang sedang menggandeng tangannya Neale. Yukisa yang sepertinya tidak ceroboh lagi. Mizu-neechan bersama suaminya Haruhi dan adiknya. Senior Sheryl. “Sherty, kuatkan dirimu” suara lembut itu membuatku menoleh. “Mereka—“ perkataan itu terputus dari mulut Sheryl. Wanita yang saat ini menjadi tunangan Jee.

“Reid, ayah dan ibumu—sudah tiada” ujar Salah satu dari mereka dengan suara bergetar. Jujur, aku tak tahu harus berekspresi seperti apa? Menangis atau menjerit seperti orang gila? Otakku kosong, begitu kosong sampai-sampai aku tak tahu harus berbuat apa. Menangis? Caranya menangispun aku tak tahu seperti apa? Sedangkan kini aku hanya bisa duduk terdiam diatas tempat tidur, mendekap kamera milik Jee. Satu-satunya barang peninggalan Jee. Tak berkedip sedikitpun. Kosong dan yang terasa adalah kehampaan dalam relung-relung hatiku. Tak ada Jee lagi didunia ini. Tak ada lagi sosok kakak yang selalu kau lihat punggungnya. Tak ada lagi sosok orang yang harus dirinya ikuti kemanapun. Tak akan bisa mendengar suaranya, melihat senyumnya, membuatnya berekspresi menjadi dirinya sendiri. Tak akan ada lagi sosok Jee.

= Pemakaman =

Aku berdiri ditempat ini. Tiga pusara baru disamping sebuah pusara kecil. Orang-orang dengan pakaian hitam mengelilingi memberi doa. Menangis dan menunjukan ekspresinya, tapi dirinya sendiri tak dapat menujukan ekspresi sedih atau mengeluarkan air mata dengan sederas itu. Hanya menatap pusara yang Tertulis disitu. Sebuah nama yang sangat ia sayangi. Sosok kakak yang sangat berarti baginya. Mungkin orang-orang berfikir gadis yang akan menginjak usia 20 tahun ini terlihat kuat. Tapi ada satu hal yang ia pegang sampai sekarang. Perkartaan Jee yang membuatnya Seperti ini dan hanya pada Jee dirinya dapat menunjukan ekspresi itu. “Kuat kau harus kuat. Jangan menangis hanya karena hal kecil. Jangan biarkan orang-orang bersimpati hanya karena melihatmu menangis. Jangan biarkan mereka tahu perasaanmu. Tersenyum itu cara yang mujarab” kata-kata itu terlintas dalam benaknya. Tersenyum hanya satu-satunya cara.

Aku menundukan pandanganku, masih berdiri berdiam didepan pusara kakakku. Jee. Tertunduk, tak menghiraukan orang-orang yang pergi sambil menyentuh pundakku. Memberiku dukungan, menyuruh diriku tabah untuk menghadapi apa yang terjadi. Satu demi satu bulir-bulir air mata menetes dari sudut mataku. Hanya mengalir begitu saja. Tak ada isak tangis keluar dari bibir kecil milik Sherty. Pandanganya terus tertunduk. Hingga suara kecil kekanakan menyadarkanku. “Kakak kenapa menangis?”

Mataku menangakap sosok seorang anak yang sepertinya berumur kisaran 4 tahunan. Wajah yang berparas asia, begitu kukenal dekat. “Kakak, kakak nama kakak siapa? Kenapa menangis? Apa ada yang sakit?” tanyanya dengan suaranya yang lucu dan menggemaskan. Aku hanya tersensenyum menggelengkan kepala. Ada sedikit rasa penasaran dalam hatiku. Siapa gerangan anak yang berada dihadapaku. Wajahnya begitu mirip dengannya, namun ada yang membedakan sorot mata anak ini, tidak mirip dengan sorot mata sosok yang aku kenal. Apa mungkin?

“Ayah!!” anak laki-laki kecil itu membalikan badannya dan melambaikan tangan. Akupun berahlik kearah dimana anak kecil dihadapanku melambaikan tangan. Sosok seorang laki-laki yang tak sedikit berubah namun aku masih bisa mengenalinya. “Sherty?” suara yang dirinya rindukan, salah satu sosok dari sebagian reluang hati yang hilang. Kini berada dihadapanku.

“Ascott–!” ucapku lirih. Bulir-bulir air mata kembali mengalir dari sudut mataku. Mengalir dengan deras hingga suara isak yang tak pernah keluar dari mulutku lagi kini terdengar. Apakah ini yang namanya menangis? Apakah ini rasanya sedih yang tak tertahankan? Aku kembali tertunduk. Menangis sejadi-jadinya seperti anak kecil yang permennya diambil orang. Menunjukan kelemahanku yang tak pernah aku tunjukan sebelumnya. Selain dengan Jee. Lemah, apakah aku begitu lemah hingga sekian lama aku tak tahu rasanya air mata. Hingga aku baru menyadari bahwa inikah rasanya menangis didepan orang. Perasaan berkecambukku keluar meluap begitu saja. Aku kembali tertunduk, terisak, tubuhku bergetar. Merengkuh kamera dengan Strap merah dalam pelukanku. Hingga bulir-bulir air mata yang mengalir dari sudut mataku menetes menjatuhi lensa kamera milik Jee. Lemah aku memang lemah, sampai saat ini aku baru menyadarinya. Menangis bukan berarti lemah.

**THE END**

Iklan

Top Rating