Last Christmas

Judul :Last Christmas
Author : Saya sebagai PMnya Hitose
malassebutnama

Disclaimer :
1. Yang punya ini forum tentunya dan segala isinya
2. Hitose Sasaki
3. Issei Sasaki
4. Sarasa Ikari chara fiksi saya, dan Takumi chara fiksi pmnya Issei
5. Yang merasa saya sebut-sebut.

Terima kasih kepada :
1. Jelas pm saya.
2. yang punya ini forum berserta jajarannya
3. Pmnya Issei yang udah nyuruh saya buat munculin ini cerita.
4. chara fiksi yang saya sayangi
5. DJ Aligator Ft. Heidi Degn – Close To You n versi classicnya. Yang sudah menemani untuk mendapatkan inpirasi.
6. Orang tua saya yang suka manggil klo feel lagi full.
7. untuk semua yang belum saya sebutkan.

Info :
Cerita ini masuk PG-13, jadi tidak ada adengan sesama jenis okay walau, baca sendiri saja. Malas saya memberi tahunya. Kalau mau tahu Sarasa klik gambar dibawah Oke!
Sarasa Ikari 23 tahun dan Sarasa jika sedang manggung.
Hitose Sasaki 23 tahun
dan sisanya nanti menyusul, jika saya ada semangat bikin. Jadi nantikanlah.

Lagi

Song Of Loneliness

Disclaimer: Ryoukubita punya Ndhez, dan gw hanya punya Tsukasa berserta Familinya. NPC : KouJo Takafumi (24) kakak laki-lakinya Tsukasa dan Arishima (18) yang jadi korban. Ini pertama kalinya bikin song fiction jadi klo ancur maaf-maaf saja.

Timeline: 1 Tahun sebelum masuk Ryokubita.

Nb : sekedar informasi ini fanfic idenya keluar waktu denger lagu ini dan Hameln ~ Koisuru Marionnette ~ sebenarnya ada satu lagi cuma saya lupa linknya.

 


 

Song Of Loneliness

Aku menyandarkan tubuhku pada dinding putih dingin. Mengadahkan kepala mentap langit-langit yang membisu. Mataku terpejam sesekali. Merekam setiap senyuman dalam ingatan-ku. Menyimpan di dalam hati yang paling terdalam dan menguncinya di sudut paling terdalam.

Menangis dalam sepi. Bahkan setiap malam ketika kenangan itu terlintas, seketika air mata itu turun membasahi wajah. Rasa sakit yang menusuk hingga menyesakan dada. Mencekik leher yang hampir menghentikan aliran pernafasan yang mengalir keseluruh tubuh.

AKu terduduk lemas, semakin lemas ketika desingan peluru itu berbunyi. Menyanyikan alunan kematian yang hanya bisa di perdengarkan. Setiap alunan nyanyian kematian berdesing, semakin sebagian diri ini terasa sakit. Sakit yang tak tertahankan, seolah-olah ada yang mencabut sebagian jiwa yang berada di dalam dirimu dengan paksa.

Ingin rasanya aku berlari. Berlari menghentikan suara alunan kematian yang menyakitkan hati. Berlari menembus kerumunan dihadapanku. Tapi yang terjadi aku tertahan disini. Mereka menahanku. Menghalangiku.

Sakit. tidak-kah mereka dapat merasakannya? merasakan kesakitan ketika lagu alunan kematian itu dimainkan?

Air mata ini terus mengalir, tubuh yang hampir lemas tak berdaya seiring alunan kematian itu menghilang. Dan aku berlari menembus sosok mereka yang memegangiku sedari tadi. tangan yang bergemtar memberanikan membuka batas yang menjadi penghalang. Mendorong paksa walau aku tahu tidak ada yang menghalangi.

Yang terjadi adalah…

Aku hanya terdiam membisu. Menatap tubuh bersimbah darah. seketika saja. Cairan bening transaparan itu mengalir dari sudut mataku. langkah kakiku berlahan maju. Seiring dengan rasa sesak di dada. menatap sosok pria yang terbaring tak bernyawa dengan peralatan penyambung hidup masih terpasang di tangan kanannya. Senyuman yang terbingkai di wajah.

Tak ada kata-kata yang ngeluar dari bibirku, bahkan suara pun sulit untuk di keluarkan. Semakin diriku melangkah mendekat kearahnya, semakin lemah pertahananku. Semakin sesak dada ini.

Dan hingga satu langkah lagi aku ingin menyentuhnya, membelai wajahnya untuk terakhir kalinya. Dia menarik tubuhku menjauh. menjauh dari sosok orang itu. seberapa usaha aku melawan,dia lebih kuat dari diriku. seberapa banyak air mata ini tumpah tak terhingga dan seberapa banyak aku berteriak meminta untuk di lepaskan. semuanya percuma dia tidak akan melepaskan diriku untuk menyentuh orang itu.

Sakit, sakit dan rasa sakit yang hanya bisa kurasakan.

Esok atau lusa ataupun tahun-tahun selanjutnya aku tidak akan pernah bisa melihat wajah yang selalu terkembang senyum, sosok yang memandangku apa adanya diriku. Suaranya yang lembut tak bisa ku dengar lagi. sosoknya tidak bisa-ku lihat lagi, bahkan tangan ini tidak bisa menyentuhnya lagi.

Yang bisa aku kenang hanya bayangan dalam memori yang mungkin suatu saat akan terlupa, dan aku takut jika harus atau tiba-tiba melupakannya.

Dan yang bisa aku lakukan hanya bisa mengenangnya. Menyimpan kenangan yang sebisa mungkin tidak ingin aku lupakan. Dan seandainya aku bertemu lagi di kehidupan yang akan datang? akankah tetap saling mengenal atau tidak sama sekali? Apakah akan tetap berakhir seperti ini berakhir dengan air mata dan hanya diriku saja yang merasakan kesakitan? Dan aku berakhir dalam kesendirian, berakhir dalam sangkar perak yang mengukuk kebebasan dari kebebasan yang hampir aku capai.

Alone. And I am Alonely again.

 

=OWARI=

REUNION

Disclaimer : Guavitten’s n chara orang yang gw pake namanya tanpa seiijin gw yaitu Mizuhime Winterfield, Haruhi Kumayuki suaminya Mizuhime *btw kapan nikahnya??* Markius J. William, Jun Ryuuzawa, Yukisa Conrad. Rhetarox Neale , Calon kakak ipar gw Sheryl dan Teppei ascott yang dah punya anak umur 4 tahun XDD

Keterangan : Semua chara milik pm masing2 dan hanya sekedar numpang nama doank XDDD *pm disambitin bakiak*

****

1986.

January Aku terbangun di sebuah tempat yang luas. Tempat yang di tumbuhi dengan rerumputan, dan bunga-bunga indah. Aroma kedamaian dapat tercium. Padang bunga yang tak aku kenal, tanpa rumah, jalan kecil ataupun mahkluk hidup seperti diriku. Hanya ada kesendirian . Sepi begitu sepi. Hanya ada angin, udara yang kuhirup, rerumputan, bebatuan, dan bunga.

“Jee, dimana dia?” aku berputar mencari sosoknya di tempat ini namun, tak ada Kakakku begitu juga Mere dan Pere. Tak ada mereka disekitarku, hanya aku seorang diri. “Jee bodoh,” ucapku “Bukankah dia sudah berjanji akan selalu bersamaku!?” lanjutku kesal. Sesekali aku menghela nafas. Satu bulir air mata mengalir tiba-tiba dari sudut mataku. Setetes demi setetes, lalu mengalir dengan derasnya. Aku melihat gambaran hidup dihadapanku bagaikan sebuah film yang diputar dengan durasi 2.15.

****

Tahun 1985. Desember akhir.

Hening da tenang, tak ada satu pun yang berbicara, jika membuka mulut yang ada hanyalah perang dingin. Tapi tidak ada yang membuat gadis berumur 18 tahun ini senang. Diruangan ini ada Pere, Mere dan Jee. Walaupun Sherty tahu ada yang kurang, tak ada Noire disini. Suasana tenang diruang makan, aura kehangatan terasa mengalahkan perang dingin antara Jee dan Mere. Sherty menyukai suasana seperti ini bahkan suasana ini yang dirinya rindukan.

Brakk!!!!

Pandangan mereka berahlih kearah suara pintu yang terbuka. Sekelompok orang-orang bertopeng mengenakan jubah hitam masuk. Wajah Pere dan Mere terlihat begitu panik dan sepertinya ada raut wajah ketakutan dan rasa benci pada orang-orang berjubah hitam dan bertopeng. “ Reid, bawa Sherty pergi dari tempat ini” Ujar Pere tegas dan sedikit bergetar. Sherty baru kali ini melihat wajah kedua orang tua yang ia sayangi menunjukan wajah seperti itu. “ Sher..!!” Jee menarik tangan Sherty, pergi keluar dari ruangan dimana Pere dan Mere berhadapan dengan orang-orang asing. Melalui pintu lain yang melewati perapian dengan hanya menggeser tempat lilin. Perapian itu pun terbuka ke arah dalam, sebuah jalan pintas menuju bagian tangga yang mengarah ke lantai 2.

Terus memegang tangan Sherty tanpa bicara sedikitpun, Sherty dengan terpaksa mengikuti. Pandangan matanya yang tadi memperhatikan sosok kakaknya, kini berahlih kepada sosok orang seperti tertidur. Sherty menghentikan langkahnya. Melepaskan pegangan dari Jee. Kakinya melangkah menuju sosok orang yang tertidur. Matanya terbelalak kaget melihat sosok tubuh itu sudah tak bernyawa lagi. Terdiam, hingga tersadar ketika Jee menarik tangannya dengan paksa. “Jee, apa yang terjadi dengannya?” tanya Sherty penasaran “Kita harus menolongnya” ujar Sherty lagi yang terseok-seok mengikuti langkah Jee yang semakin cepat. Namun tak ada suara penjelasan yang keluar dari mulut kakaknya.

Entah sudah berapa lama Sherty mengikuti Jee. Meniti tangga demi anak tangga, hingga menuju menara utara. Sebuah kamar yang tak pernah terpakai tapi terlihat seperti terpakai. Foto seorang anak perempuan kecil dengan seorang anak laki-laki sebayanya. Foto yang begitu mirip dengan foto Jee waktu kecil. Jee melepaskan pegangannya dari Sherty. Wajahnya seperti nampak mencari sesuatu, entah apa itu Sherty tidak tahu, karena dirinya baru pertama kali ini menginjak kamar menara utara dan kelihatannya Jee sudah menemukan apa yang dicari. Sherty melihat Jee membuka sebuah lemari dan tiba-tiba saja menarik lengan Sherty. Setelah dengan sedikit menyingkirkan baju yang tergantung dan menekan pinggiran dinding dalam lemari, hingga terlihat sebuah ruangan, tempat untuk menyimpan sesuatu. “Aduh!! Sakit” Sherty mengelus bahunya yang terbentur dinding saat tubuhnya terhempas meringkuk didalam ruangan kecil itu.

“Bersembunyilah disini, jangan keluar sampai keadaanya aman” Sherty baru pertama kali ini mendengar Jee berkata seperti itu, bukan nada perkataan yang terdengar main-main tapi nada ucapan yang berbeda, serius itu yang Sherty tangkap dari perkataan Jee. Wajah Tampan Jee tampak begitu berbeda.

“Tapi bagaimana dengan Pere, dan Mere?” Sherty bertanya pada Jee “Lalu bagaimana dengan dirimu?” tanya Sherty lagi “Tempat ini bisa kita bagi dua, aku mohon Jee bersembunyilah bersamaku. Bukankah kau sayang padaku?” Ujar Sherty yang mulai hampir menangis dan terus membujuk kakaknya untuk bersembunyi bersamanya.

“Bodoh, tentu saja aku sayang padamu. Tapi aku lebih mengkhawatirkan dirimu, aku sudah janji pada Pere dan Mere untuk menjaga dan melindungimu” Jee berusaha tenang dihadapan Sherty, “Kau tahu tempat ini hanya cukup untuk satu orang” ujar Jee tersenyum getir dan baru kali ini Sherty melihat raut wajah Jee seperti itu. Tersenyum sangat manis namun terdapat sesuatu yang aneh dalam sorot matanya, seakan-akan ini adalah hari terakhir.

“Tapi—“ Wajah Sherty terlihat memelas dan berharap Jee ikut bersembunyi bersamanya.

“Tidak ada tapi-tapian, dan jangan keluar sampai keadaanya benar-benar aman” Jee menghela nafas “Jika terjadi apa-apa padaku tolong sampaikan padanya, Sherly. Ya Tuhan…Maaf, aku tidak bisa menempati janjiku” Jee mengelus pipi Sherty. Gadis berumur 19 tahun itu melihat kakaknya melepaskan kamera yang selalu tergantung dilehernya, dan memberikannya pada Sherty “Tolong jaga baik-baik benda ini, dan ingat pesanku, kau harus tetap hidup walau apapun hasilnya nanti, temukan kebahagianmu. Jangan pernah menyerah” setelah mengatakan itu Jee menutup penutup ruangan, membuat ruangan menjadi gelap, dan hampir tidak terdengar apapun. Suara terakhir yang kudengar hanyalah suara pintu tertutup dan kembali hening.

Gelap.

Ruangan ini begitu gelap. Mataku belum terbiasa. Itu tidak penting, yang menjadi masalah sekarang bagaimana dengan Jee? Pere dan Mere? Kenapa aku harus bersembunyi? Kenapa Jee tak ikut bersembunyi bersamaku? Sherty kecil yang manja sudah dewasa sekarang dan tahu bagaimana untuk membela diri? Kini mataku sudah terbiasa dengan kegelapan, dan yang pertama kali kulihat adalah kilauan cahaya lemah yang terpantul dari lensa kamera Jee. Cahaya lemah yang menerobos diantara celah-celah kecil.

Jee.

Baru kali ini Jee melepaskan kamera kesayangannya itu. Aku sebenarnya tidak mau hanya meringkuk disini, dilindungi menunggu sampai keadaanya aman. Aku sebenarnya ingin membantu, ingin melindungi Jee. Tetapi itu adalah perintah Jee, dia tahu yang terbaik untukku tetapi kenapa harus kamu menitipkan kamera yang selalu kau bawa bersamamu Jee. Dalam pikikaranku begitu banyak hal-hal berkecamuk. Jee, tolong jaga Pere dan Mere. Jee, jaga dirimu dan berjanjilah akan kembali. Membuka ruangan ini, dan kau tersenyum padaku mengatakan “Lihat aku baik-baik saja kan? Aku semakin meringkuk dalam ruangan kecil yang sempit. Ruangan yang hanya cukup untuk satu orang, kamera Jee ada dipangkuannku. Tidak akan terjatuh. Sementara kedua tanganku menutup telinga, berharap tidak akan mendengar suara apapun selain suara Jee, dan mataku pun tertutup rapat, berharap cahaya yang pertama kali kulihat adalah cahaya yang menyinari wajah Jee yang tersenyum. Mengulurkan tangannya dan mengeluarkan diriku dari tempat ini. Tubuhku gemetar, semakin merapat berharap sentuhan lembut yang mengguncang bahuku adalah dari tangan Jee.

Jee, Pere, Mere.Cepatlah kembali.

Entah berapa lama Sherty berada diruangan sempit itu. Meringkuk, bergetar menunggu seseorang yang dirinya harapkan muncul. Entah berapa lama lagi dirinya harus berada ditempat ini. Berlahan-lahan mataku terpejam. Berkali-kali aku berusaha menahan agar mataku tidak tertutup, namun berkali-kali itupula mataku kembali tertutup. Entah berapa lama lagi, dirinya sanggup bertahan. Semakin lama, udara disekitar ruangan tempat Sherty berada mulai menipis. Sherty yang bergetar semakin merapat, tangannya memeluk kamera yang diberikan oleh kakaknya. Udara kini pun hampir menghilang. Mata Sherty pun terpejam seiring aliran udara yang mulai menghilang.

****

1986

= Hospital =

Aku membuka mataku dengan berlahan-lahan. Bias cahaya menusuk mata. Silau. Rasanya sulit sekali untuk membuka mataku. Seluloid sosok ramai nampak mengelilingi diriku. “Jee??” ucapku “Pere, Mere?” lanjutku senang, namun sosok samar yang tertutup oleh sinar itu kini mulai terlihat. Mataku terbiasa oleh cahaya yang tadi nampak menyilaukan. Tapi ternyata ditempat ini tidak ada Jee, Mere dan Pere. Lalu dimana mereka? Aku hanya bisa bertanya didalam hati. Terduduk terdiam memandangi satu persatu orang-orang yang berada di tempat ini. Baru aku sadari, ternyata aku terbangun diruang berdinding putih. Infus yang melekat di tangan kiriku. Mereka. Orang-orang yang aku kenal mengitari diriku. Wajah-wajah mereka terlihat begitu lega namun seperti menyimpan sesuatu hal. Tapi apa itu? Apa yang mereka sembunyikan. Dan kenapa aku bisa berada ditempat ini? Siapa yang membawaku kesini? Bukankah tadi aku berada didalam lemari?

“Jee dimana dia?” tanyaku lemah. Tak satupun diantara mereka menjawab. Tak satupun mereka berani mentap mataku. Hey apa yang terjadi? Dimana Jee? Dimana? Kenapa mereka terdiam, tak bicara sepatah katapun. Sungguh apa yang sebenarnya terjadi? Banyak perntanyaan dikepalaku. Berkecambuk menjadi satu.

Hingga seseorang anak laki-laki memberikan kamera dengan strap merah kepadaku. Dia Jo William, Markius. Mantan adik kelasku. Kepalaku kembali menoleh kearah yang lain. Mereka semua ada disini, Jun yang terlihat bersama sosok seorang perempuan yang sedang menggandeng tangannya Neale. Yukisa yang sepertinya tidak ceroboh lagi. Mizu-neechan bersama suaminya Haruhi dan adiknya. Senior Sheryl. “Sherty, kuatkan dirimu” suara lembut itu membuatku menoleh. “Mereka—“ perkataan itu terputus dari mulut Sheryl. Wanita yang saat ini menjadi tunangan Jee.

“Reid, ayah dan ibumu—sudah tiada” ujar Salah satu dari mereka dengan suara bergetar. Jujur, aku tak tahu harus berekspresi seperti apa? Menangis atau menjerit seperti orang gila? Otakku kosong, begitu kosong sampai-sampai aku tak tahu harus berbuat apa. Menangis? Caranya menangispun aku tak tahu seperti apa? Sedangkan kini aku hanya bisa duduk terdiam diatas tempat tidur, mendekap kamera milik Jee. Satu-satunya barang peninggalan Jee. Tak berkedip sedikitpun. Kosong dan yang terasa adalah kehampaan dalam relung-relung hatiku. Tak ada Jee lagi didunia ini. Tak ada lagi sosok kakak yang selalu kau lihat punggungnya. Tak ada lagi sosok orang yang harus dirinya ikuti kemanapun. Tak akan bisa mendengar suaranya, melihat senyumnya, membuatnya berekspresi menjadi dirinya sendiri. Tak akan ada lagi sosok Jee.

= Pemakaman =

Aku berdiri ditempat ini. Tiga pusara baru disamping sebuah pusara kecil. Orang-orang dengan pakaian hitam mengelilingi memberi doa. Menangis dan menunjukan ekspresinya, tapi dirinya sendiri tak dapat menujukan ekspresi sedih atau mengeluarkan air mata dengan sederas itu. Hanya menatap pusara yang Tertulis disitu. Sebuah nama yang sangat ia sayangi. Sosok kakak yang sangat berarti baginya. Mungkin orang-orang berfikir gadis yang akan menginjak usia 20 tahun ini terlihat kuat. Tapi ada satu hal yang ia pegang sampai sekarang. Perkartaan Jee yang membuatnya Seperti ini dan hanya pada Jee dirinya dapat menunjukan ekspresi itu. “Kuat kau harus kuat. Jangan menangis hanya karena hal kecil. Jangan biarkan orang-orang bersimpati hanya karena melihatmu menangis. Jangan biarkan mereka tahu perasaanmu. Tersenyum itu cara yang mujarab” kata-kata itu terlintas dalam benaknya. Tersenyum hanya satu-satunya cara.

Aku menundukan pandanganku, masih berdiri berdiam didepan pusara kakakku. Jee. Tertunduk, tak menghiraukan orang-orang yang pergi sambil menyentuh pundakku. Memberiku dukungan, menyuruh diriku tabah untuk menghadapi apa yang terjadi. Satu demi satu bulir-bulir air mata menetes dari sudut mataku. Hanya mengalir begitu saja. Tak ada isak tangis keluar dari bibir kecil milik Sherty. Pandanganya terus tertunduk. Hingga suara kecil kekanakan menyadarkanku. “Kakak kenapa menangis?”

Mataku menangakap sosok seorang anak yang sepertinya berumur kisaran 4 tahunan. Wajah yang berparas asia, begitu kukenal dekat. “Kakak, kakak nama kakak siapa? Kenapa menangis? Apa ada yang sakit?” tanyanya dengan suaranya yang lucu dan menggemaskan. Aku hanya tersensenyum menggelengkan kepala. Ada sedikit rasa penasaran dalam hatiku. Siapa gerangan anak yang berada dihadapaku. Wajahnya begitu mirip dengannya, namun ada yang membedakan sorot mata anak ini, tidak mirip dengan sorot mata sosok yang aku kenal. Apa mungkin?

“Ayah!!” anak laki-laki kecil itu membalikan badannya dan melambaikan tangan. Akupun berahlik kearah dimana anak kecil dihadapanku melambaikan tangan. Sosok seorang laki-laki yang tak sedikit berubah namun aku masih bisa mengenalinya. “Sherty?” suara yang dirinya rindukan, salah satu sosok dari sebagian reluang hati yang hilang. Kini berada dihadapanku.

“Ascott–!” ucapku lirih. Bulir-bulir air mata kembali mengalir dari sudut mataku. Mengalir dengan deras hingga suara isak yang tak pernah keluar dari mulutku lagi kini terdengar. Apakah ini yang namanya menangis? Apakah ini rasanya sedih yang tak tertahankan? Aku kembali tertunduk. Menangis sejadi-jadinya seperti anak kecil yang permennya diambil orang. Menunjukan kelemahanku yang tak pernah aku tunjukan sebelumnya. Selain dengan Jee. Lemah, apakah aku begitu lemah hingga sekian lama aku tak tahu rasanya air mata. Hingga aku baru menyadari bahwa inikah rasanya menangis didepan orang. Perasaan berkecambukku keluar meluap begitu saja. Aku kembali tertunduk, terisak, tubuhku bergetar. Merengkuh kamera dengan Strap merah dalam pelukanku. Hingga bulir-bulir air mata yang mengalir dari sudut mataku menetes menjatuhi lensa kamera milik Jee. Lemah aku memang lemah, sampai saat ini aku baru menyadarinya. Menangis bukan berarti lemah.

**THE END**

Boku Wa Otoko, Onna Janai

Title : Boku wa Otoko, Onna Janai
Gender : Terserah yang baca aja.
Pairing : Saga *arisu X Reila
Rating : 17 + or Adult *bisa turun bisa naik tergantung pemikiran yang baca*

Ada suatu kesalahan yang terjadi padaku, mungkin pada hidupku atau pada keluargaku. Dan jika saja aku bisa memilih, aku tidak mau melakukan hal ini bahkan untuk menginjak tempat ini pun aku tidak mau. Hanya karena keluargaku yang turun temurun menarikan tarian kabuki, tradisional dance. Dimana setiap anak laki-lakinya di wajibkan memakai pakaian perempuan dan menguasai pekerjaan yang dilakukan oleh wanita. All about women. I Hate is my life.

“Sachan”

Deg!! sejenak aku tersentak kaget, secara tiba-tiba saja seseorang memanggil namaku dan wajahnya sudah beberapa senti dihadapanku, sangat dekat bahkan hingga aku bisa merasakan hembusan nafasnya diwajahku. Aroma lembut yang mengelilinginya juga dapat tercium. Wajah yang tersenyum tulus membuatku malu dan memalingkan wajah dari hadapannya. Seandainya saja jika tidak dapat aku tahan hawa nafsu dalam diri ini, mungkin saja aku sudah mengecup bibir pink kemerahan yang telihat mengkilat dan merengkuhnya dalam pelukan bahkan mungkin saja aku tak akan melepaskannya begitu saja. Never.

Satu Hal yang aku rahasiakan dari dirinya, Reila dan seluruh satu sekolah tempatku sekarang berada kecuali Alice Nine, band tempat dimana aku bisa di terima dengan apa adanya diriku. Iri bahkan aku iri dengan anak-anak arisu yang bebas mengungkapkan perasaan mereka dengan mudahnya, sungguh aku begitu sangat iri dengan hidup yang mereka jalani. Benar siapapun pasti tidak ada yang percaya kalau aku salah satu dari personil band yang disukai para remaja diseluruh jepang, band tempat aku bernaung tanpa ada rasa beban dan menjadi diriku sendiri.

Saga mereka mengenalku sebagai Saga, basist dari salah satu personil arisu, yang terdiri dari Shou vokalis, Nao drumer sang Leader, Tora gitarist, Hiroto gitaris, dan diriku sendiri. Menyenangkan memang jika bersama mereka sebagai diriku sendiri, sebagai seorang cowok bukan sebagai saki yang seorang wanita. Menyebalkan.

“Saga?”

“sakamoto!!!”

“Nani kore?” jawabku ketus menoleh kearah mereka,

“iie, daijoubu desu ka?” tanya Nao yang khawatir, dan aku hanya menggeleng terseyum tanpa berbicara, hanya dengan pandangan mata ‘aku baik-baik saja,tak usah khawatir’ hanya satu yang juga mereka tidak tahu, dan mengerti tentang perasaanku dan rasa sesak menyimpan semua rahasia. Aku hanya tak ingin mereka repot karena permasalahanku, hanya itu saja. Mereka memang tahu diriku, tak ada yang aku tutupi oleh mereka, teman sepermainanku dari kecil. Tapi untuk permasalahan ini, aku tidak bisa menceritakannya, sunggu-sungguh tak bisa untuk saat ini.

<bersambung>

Uruha apes

Judul : Uruha Apes
Gender : Humor
Pairing : the gazette
Rating : SU

Drrrtttt….Drrrrtttt…..*alarm bergetar*(mari kita hitung mundur bersama2)10…9…8…7…6…5…4…3…2…1…time end…BUKAKAKAK….BUKAKAKAKA….*alarm berbentuk muka badut*<-alarm yang aneh…bayangkan sendiri

Uruha yang sedang tertidur lelap dengan bekas make up menempel di bantal pun tidak bangun walaupun mendengar suara alarm yang aneh…
“ATSUAKI BANGUN!!!”nyokap Uruha membangunkan dengan roll rambut menempel d jidat
“hmm…10 jam lagi…tanggung mi”Uruha kembali ke mimpinya
“PAPI…come here honey,look your son…si Atsuaki masih molor tuch”manggil pake toak
“GRRR…tenang saja honey*sambil membunyikan jari* HIIIAAAAATTTT…”lompat ala smackdown ke Uruha<-anak kecil jgn di tiru,ini hanya rekayasa saja
“AAAA…aduh pai,dikau merusak tubuh anakmu yang cantik ini*memegang wajah plus effek2 cahaya*,tapi dikau ku maafkan . yang penting wajahku tak terluka”sambil megang cermin<-asli…mau muntah darah
“dah yang penti you mandi dulu*nendang Uruha sampa kekamar mandi*. Mami…sebenarnya ada kelainan apa dianak kita ini???”berbicara mesra dengan mami
“tak apa papi.yang penting dia masih anak kita”megang tangan papi plus effek2 bunga dan taman<-LOCH?!

KAMAR MANDI:
akibat dari tendangan papi,Uruha akhirnya dapat terbang ala superman…0.o?!

“BUSHH*suara Uruha terbang* ….BRUAK…aduh…aduh…,kepala ku yang indah”Uruha megang kepala yang benjol 5 tingkat
“ATSUAKI!!!!*nendang pintu kamar mandi* LO APAIN BH GW?!!!”kakak Uruha lagi berserk
“KYAAA….TOLONG ADA HIDUNG BELANG!!!”terak ala banci
“dach diem…*nonjok ala street fighter* yang penting bh gw mana???”
“hemph…nie!!!”Uruha ngasi bh sambil manyunin bibir
“hei..Atsuaki sadar donk,lo kan cowok” ninggali Uruha
“…yang pentingkan dalam daku…ce…jah gw lupa klo gw cowok”<-asli pikun ato begoo yach???!

KAMAR KAKAK URUHA:<-event paling singkat

“puk…puk…*bunyi bedak dipipi* hah…akhirnya daku kembali menjadi princess”megang pipi dengan kedua tangan<najong…najis dach
“HUAAA….Atsuaki apa yang kau…TIDAK!!!!!!semua make up ku!!*lhat semua make up yang dach pada kosong*…GRRR…sudah pergi skul sono!!!”mukul Uruha pakai pemukul baseball hingga keluar rumah lewat jendela pecah<-hampir kena dinding itu

JALANAN:
“BUSSHH…*Uruha terbang,kali ini dengan gaya Alladin Style* duh bosen deh…”lagi mo ambil mp3
“KWOAKK…KWOAK(kyaa…ada banci terbang!!!)”kagetnya seekor burung gagak
“duch…berisik dech nie buyung*nabok pke tas skulah*…bikin sebel dech”ngomong ala banci
“KWOAK…(gw sumpahin sial lo,BANCI!!!)”gagaknya sebel…tapi iklas aja
“BRUUKKK….*nabrak tiang listrik*…aaaa…*ngambil cermin*untung wajahku tak apa2”
“KWOAAAAKKK….KAKAKA(mampus lo!!!!…kakaka)”ketawa ala gagak<gagak adalah tanda kesialan…dianjurkan untuk tdk memeliharanya.kok jd iklan???
“dari pada bikin mod daku jelek,mending denger mp3 aja dech.setel lagu fav dakua ach…”

didaerah pertokoan yang ditinggali oleh ibu2 tukang gosip and para abg2 yang lag pada nongkrong<-ga pada skul pa nie abg???

“eh jeng…tau ga sie yee,masa ibu itu…”terganggu leh suara yanga aneh
“woi….cuy hari ini enaknya ngapain yach???”abg lagi bosen<-yach skul lach…mank mo kemana lagi???
“paha ku seksei….itu terbukti dari cara kalian menatapku(lagu ulan jamil~~yee…)”sambil pamer2 paha
“duch nie banci…ngerusak gosip orang aja,rasakan nie pukulan dari tomat terbang plus gerobak sayurnya and tukangnya sekalian”ibu2 ngamuk pke angkat2 gerobak sayur<-kasihanilah engaku tukang sayur
“cuy…ada banci kena gebuk,ikutan nyok….’HAJAR BLEHH’ “disepakati bersama
“eits…ada apa ngumpul2???.suka suara dak…AAAHHH”Uruha dihajar massa

bak…bik…buk…bak…buk…BRAKK!!!GUBRAK…GUBRRAAKK…

“jeng…udah jeng jeng.mukanya dach ga berbentuk lagi(padahal muka asli). dach kasian”ibu2 puas gebukin orang
“yaaahhh….udahan.cabut ahh…”suara kekecewaan
“aduh…aduh…kenapa sie kalian???duch…make up daku pada ilang dech,terpaksa dandan lagi dech*ngurek2 tas wat ambil make up hasil curian punya kakak Uruha*…eh ada kecrekan, punya sapa nie??!*liat kanan-kiri*…dach gapapa,wat daku aja deh”masukin kecrekan ketas.

Bersambung…..

Previous Older Entries

Top Rating