Last Christmas

Judul :Last Christmas
Author : Saya sebagai PMnya Hitose
malassebutnama

Disclaimer :
1. Yang punya ini forum tentunya dan segala isinya
2. Hitose Sasaki
3. Issei Sasaki
4. Sarasa Ikari chara fiksi saya, dan Takumi chara fiksi pmnya Issei
5. Yang merasa saya sebut-sebut.

Terima kasih kepada :
1. Jelas pm saya.
2. yang punya ini forum berserta jajarannya
3. Pmnya Issei yang udah nyuruh saya buat munculin ini cerita.
4. chara fiksi yang saya sayangi
5. DJ Aligator Ft. Heidi Degn – Close To You n versi classicnya. Yang sudah menemani untuk mendapatkan inpirasi.
6. Orang tua saya yang suka manggil klo feel lagi full.
7. untuk semua yang belum saya sebutkan.

Info :
Cerita ini masuk PG-13, jadi tidak ada adengan sesama jenis okay walau, baca sendiri saja. Malas saya memberi tahunya. Kalau mau tahu Sarasa klik gambar dibawah Oke!
Sarasa Ikari 23 tahun dan Sarasa jika sedang manggung.
Hitose Sasaki 23 tahun
dan sisanya nanti menyusul, jika saya ada semangat bikin. Jadi nantikanlah.

.: Last Christmas :.

23 December 2011. Sapporo. Winter

Salju masih turun tanpa henti. Menutupi setiap jalan berdebu. Pepohonan rimbun nan hijau pun telah tertutupi oleh salju. Hanya celah-celah kecil yang masih tersisah menampilkan warna pudar dari aslinya. Tidak ada pemandangan indah selain jejak-jejak yang ditinggalkan. Bahkan pada saat matahari telah berada di puncaknya udara dingin masih menyelimuti. Tempat ini memang berbeda bahkan musim panas pun masih terasa dingin.

Sosok gadis terduduk di pinggir jendela kaca. Menatap ke arah luar dengan pandangan penuh pengharapan. Seakan menanti sang pangeran berkuda putih datang menjemput dari menara tinggi dan membawanya kabur pergi menuju dunia luar. Sayangnya itu hanya ada dalam dongeng-dongeng pengantar tidur semata dan sayangnya lagi apa yang diharapkan gadis muda itu tidak pernah datang.

Suara derit pintu membuyarkan lamunan, menoleh pelan, kepalanya terteleng tertahan. Kembali. Bingkai garis senyum membentuk lengkungan terukir indah. Wajah pucat pasi menghiasi senyuman yang tak pernah pudar. Indah namun terasa menyakitkan. Wajah yang seperti tidak menyimpan beban berat dengan warna kelereng indah menghiasi kedua rongga matanya.

Cantik. Bahkan terlihat begitu indah dimata ketika sinar matahari masuk kedalam menyinari gadis muda yang masih terduduk dalam peraduan penantiannya. Tak ada yang bisa menandingi betapa indahnya mahluk cipataan Tuhan yang satu ini. Ciptaan yang dapat menggetarkan hati setiap insan. Namun juga dibalik ke indahannya itu memiliki racun yang dapat membunuh lawan atau dirinya tersendiri. Jika suatu racun yang memiliki dua mata pisau itu bekerja, memancarkan suatu sinyal dan mengenai seseorang yang merasakan sinyal tersebut.

Love.

Pancaran cinta yang tak pernah padam dari sorot matanya. Penantian dan pengharapan dibalik senyuman yang menutupi beban hatinya. Terlihat tegar kelihatannya, tapi—rapuh dan akan runtuh ketika tersentuh benda yang lebih kuat dari dirinya. Hingga tak seorang pun boleh menyanggah kaca dalam hati yang hampir runtuh.

Sampai kapan kau akan terus menunggu ‘Dia‘ datang?
‘Dia’ yang telah meninggalkan dirimu disini.
Sendiri.

Melangkah turun berlahan dari tempat peraduannya. Langkah yang tertatih-tatih. Terlihat sekilas dari wajahnya. Gadis muda yang telah menginjak usia 23 tahun itu berusaha menahan rasa sakit yang menggerogoti tubuhnya. Menggeleng pelan, menyatakan dirinya baik-baik saja, ketika keseimbangan tubuhnya hampir goyah. Tidak ada rasa lelah, bahkan keputus asaan dalam diri. Hanya semangat akan mencoba untuk terus hidup dan membuat orang lain tidak mengasihani, hingga orang lain jadi peduli dan mau berbuat baik. Karena Dia tidak akan suka ada orang lain mengganggapnya lemah.

Sampai kapan kau akan terus bertahan dengan ke egoisanmu?
Sampai kapan Kau akan terus menutupi dan tak membiarkan aku yang menutup luka itu?
Sampai sejauh mana kau akan terus berusaha mengganggap dirimu kuat?
Sampai saat ini terkadang aku tidak mengerti.

Indah, bahkan senyuman yang menghiasi warna putih pucat itu terlihat indah namun menyakitkan dada. Tubuh mungilnya yang dulu terlihat berisi kini berubah. Tidak ada rona merah yang menghiasi kedua pipinya. Tangan yang selalu hangat saat menyentuh kulit. Senyuman jahil dan suara lembut mengetarkan jiwa hingga membuat rona merah muncul.

Sekarang—yang terlihat sekarang ini berbeda seperti apa yang terlihat pada tahun-tahun kemarin. Wajah dengan rona merah kini tergantikan dengan warna pucat. Hanya bingkai senyum dan pancaran kehidupan yang masih terus dipertahankan.

“Aku senang kau datang—tahu tidak, memandang dari luar jendela itu—membosankan”

Suara kekanakan kini tak terdengar lagi, yang hanya terdengar melalui telinga adalah suara lembut berpadu desahan nafasnya terdengar sedikit parau hampir seperti bisikan angin. Merembas memasuki relung jiwa. Namun, ciri khas gadis muda yang telah berubah menjadi wanita muda ini tetap tidak menghilang. Senyum manis yang selalu membentuk bingkai indah menghiasi wajah. Sorot mata teduh tanpa beban namun menyimpan misteri yang terkadang terlihat dari pancaran sorot matanya. Sekilas.

Tidak ada yang bisa ditulis melalui kata-kata lagi, bahkan jika diungkapkan satu buku tidak akan cukup mengunggkap keindahannya. Aroma lembut yang masih sama. Bahkan kini lebih lembut masuk melalui relung jiwa. Satu pertanyaan kenapa pria itu harus meninggalkan wanita muda yang begitu rapuh ini disini sendiri? Tidakah pria itu tahu betapa harapan dari wanita ini begitu besar atau itu hanya pengalihan akan ketidak pedulian semata?

Aku sungguh membencinya.
Membenci hingga ingin membunuhnya.

“Sacchi—kenapa diam saja?” suara lembut itu menyadarkan dari lamunan omong kosong tentang hal-hal yang membuat kebencian muncul seketika kadang kala. “K—kau tidak mau me—nemaniku ya?”

“Eh! Bukan begitu.” Entah kenapa aku tidak bisa melihat dirinya jika sudah seperti ini. Pipi yang dikembungkan dengan wajah manja kelihatan marah. Tapi begitu menggemaskan. “Hanya saja aku kepikiran tugas kuliah yang akhir-akhir ini menumpuk.” Sosok yang membuat diriku jatuh dan jatuh tanpa memandang orang lain akan berkata apa. Karena dia terlalu indah di mataku. Walau aku tahu siapa yang akan dirinya pilih.

Mengidahkan bagaimana perasaan yang sampai saat ini bergejolak. Karena sadar, sosok dihadapan ini bukanlah sosok untuk dimiliki. Oleh diriku atau oleh dirinya bahkan oleh orang-orang yang menyanginya.

Lemah terkadang aku terlalu lemah.
Takut akan kehilangan.
Sebuah ketakutan yang begitu lebih menakutkan dari kegelapan.

Senyum kembali menghiasi raut wajah putih pucat dihadapanku. Melangkah berlahan memeluk erat dengan tangan kecil yang terlihat rapuh. Mengadah menatap penuh pengharapan. Aku tahu apa yang dirinya inginkan. Setiap hari, jam, menit, detik. Tidak ada pertanyaan tentang pria itu, entah pertanyaan bagaimana keadaannya, dimana pria itu berada sekarang, seluruhnya seputar tentang “pria” itu dan “pria” itu.

Hebatnya pria itu bisa membuat wanita dengan tubuh kecil, bersurai coklat terang ini terpuruk hingga terus memikirkan tanpa pernah memikirkan kesehatannya. Sebegitu hebatnya kah racun dari cinta hingga membuat orang mampu jatuh dalam keterpurukan yang lebih gelap ketika otak, perasaan, dan jiwa telah teracuni?

“Gomen.” Tidak ada yang bisa aku katakan lagi selain hal itu. Yang dapat tangan ini lakukan hanya membalas pelukannya. Tubuh kecilnya bahkan dapat aku dekap dengan erat. Mengusap lembut kepalanya, mencoba memberi pengertian. Kabar yang selalu wanita muda ini nantikan, tentang pria yang telah pergi dan meninggalkan sebuah janji. Janji yang tidak pernah ditepati.

Sebegitu hebatnya kah sebuah janji hingga membuatmu tetap terus menanti.
Bahkan sebuah janji yang belum tentu benar adanya.


“Ung—daijoubu—“ menggeleng pelan dihiasi senyuman. Tapi dibalik senyuman itu, aku tahu tersimpan kesedihan. Sebuah kesedihan paling mendalam akan sebuah penantian. Sebuah pengaharapan akan janji palsu (mungkin) yang diberikan oleh pria itu.

Tangan kurus kecilnya melepas pelukan, berpindah menggenggam erat tangan milikku. Aku dapat merasakan jari-jemari yang dulu lebih besar dari diriku kini terlihat berbeda. Kecil, dan akan rapuh bila aku menggenggamnya cukup erat. Menarik diriku pelan. Terduduk bersandar dinding di dekat sisi tempat tidur. Dia menyandarkan diri pada bahuku, meminta menceritakan bagaimana indahnya dunia luar pada saat ini.

Kau benar. Wanita muda ini tidak dapat keluar karena kondisi tubuhnya yang lemah. Penyakit mematikan menggerogoti tubuhnya. Bahkan selangkah pun tidak diijinkan keluar rumah. Ingin Rasanya aku membawanya pergi. Pergi kemana dirinya bisa membawa ketempat yang membuat bingkai senyum ceriah kembali terlukis seperti saat dulu. Sebelum—lupakan.

Mulutku tidak pernah lelah menceritakan apa yang aku temui kejadian di luar sana. Walaupun aku memang tidak sebawel saat wanita muda disampingku tersenyum manis disertai rasa penasaran yang berujung menjadi kebawelan tingkat tinggi. Dulu.

Tahukah kau?
Aku merindukan masa-masa indah bersamamu.
Senyummu.
Suaramu.
Sorot matamu.
Semangatmu.
Aku merindukan semua yang ada pada dirimu.

“—Tahukah kau pada akhrinya, Kucing kecil yang aku bawa malah diberikan oleh orang lain. Kalau kau melihatnya dengan bulu putih tebal bak kumpulan kapas pasti ingin membawanya pulang—Hiichan?” Dan aku hanya bisa terdiam menatapnya. Gadis kecil yang telah berubah menjadi wanita muda terlelap dalam buaian mimpi. Karena penyakitnya.

Tidak ada yang bisa aku lakukan, selain bercerita, menemaninya berada dalam ruangan tertutup tanpa boleh menginjakkan kaki keluar. Yang berakhir dengan selalu terlelap tertidur bersandar pada pundakku. Berlahan aku mengangkat tubuhnya, agar tidak mengusik keindahan mimpi yang menemani tidurnya. Memberikan kecupan ringan pada keningnya setelah menaruhnya dalam peraduan kehangatan. Memberikan bisikan yang sampai saat ini, aku masih belum bisa membawanya keluar.

“Tapi—esok aku akan datang menjemput membawa dirimu pergi menyaksikan keindahan malam natal yang tidak pernah kau rasakan lagi semenjak tiga tahun belakangan ini. I promise”

Aku berjanji padamu, bukan janji palsu yang pria itu berikan padamu.

“Oyasumi Hiichan”

.::#CONTINUES#::.


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Top Rating

%d blogger menyukai ini: